
imq21.com
13 Februari 2017
Eropa dan AS Terganggu Potensi Besar Kelapa Sawit Indonesia
IMQ, Jakarta — Potensi yang dihasilkan dari kelapa sawit Indonesia diduga mengganggu pengelolaan perkebunan nabati lainnya seperti kedelai dan minyak bunga matahari milik negara-negara di kawasan Eropa dan Amerika Serikat (AS).
"Padahal Indonesia telah menerapkan Indonesia Sustainable Palm Oil (ISPO) yang wajib ke seluruh perusahaan kelapa sawit di Tanah Air," kata Ketua Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia, Gus Dalhari Harahap, kepada pers di Jakarta, Senin (13/2).
Menurut Dalhari, negara-negara di Eropa dan Amerika Serikat merasa hasil perkebunan minyak nabati lain milik mereka, seperti kedelai dan bunga matahari, terganggu dengan Kelapa sawit di Indonesia yang areal lahannya kecil namun produktivitasnya tinggi, sedangkan minyak nabati lainnya itu di Eropa dan Amerika, lahannya luas tapi produktivitas rendah, bahkan sering rugi.
Negara-negara di Eropa dan AS, menurut Dalhari, ingin harga minyak kedelai maupun bunga mataharinya tetap mahal di level perdagangan global. Selain itu, juga terjadi keseimbangan harga antara minyak kelapa sawit dengan kedelai dan bunga matahari.
"Jadi supaya harga produksi perkebunan mereka tidak jatuh sekali. Apalagi sekarang kelapa sawit amat diminati di perdagangan global," papar dia.
Dalhari menilai,kampanye negatif juga dilakukan negara-negara kawasan Eropa dan Amerika untuk menggusur bisnis kelapa sawit Indonesia di level global.
"Ada saja yang mereka gulirkan isunya, soal lingkungan hidup, kebakaran hutan, efek rumah kaca, tidak berkelanjutan dan lainnya, padahal selama ini petani kelapa sawit Indonesia tidak mengganggu alam. Perkebunan kelapa sawit amat memperhatikan keberlanjutan lingkungan," ujar Dalhari.
Author: Indra BP
Sempat Disetop, Kasus penggelapan Minyak Sawit Siap Disidangkan
Kamis, 02 Maret 2017
Tidak Dihadiri Dirut, Dewan Batalkan Hearing dengan Eampat Perusahaan Sawit
Kamis, 02 Maret 2017